Visi Smart City sering digembar-gemborkan sebagai masa depan urban yang efisien, terintegrasi, dan berbasis teknologi. Namun, di balik narasi futuristik tersebut, realitas di lapangan, khususnya yang dialami oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) seperti Warung Rasa, seringkali bertolak belakang. Tuntutan dari Warung Rasa agar Pemerintah memperbaiki Infrastruktur Digital Lokal bukan sekadar keluhan bisnis biasa; ini adalah kritik mendasar terhadap pelaksanaan konsep Smart City yang cenderung fokus pada proyek mercusuar tanpa memperhatikan fondasi paling dasar yang dibutuhkan warga dan pelaku ekonomi mikro.
Narasi Smart City yang “gagal” atau setidaknya “belum merata” muncul karena adanya jurang pemisah yang lebar antara teknologi canggih yang diimplementasikan (seperti sensor lalu lintas atau aplikasi birokrasi) dengan kebutuhan digital sehari-hari masyarakat. Bagi Warung Rasa, kegagalan bukan terletak pada kurangnya aplikasi, melainkan pada keandalan koneksi internet, ketersediaan listrik yang stabil, dan biaya akses data yang masih mencekik. Bagaimana sebuah kota bisa disebut “pintar” jika pedagang makanan lokal masih kesulitan memproses pembayaran digital karena sinyal yang hilang-timbul atau harga WiFi yang tidak terjangkau?
Tuntutan Warung Rasa agar Pemerintah memperbaiki Infrastruktur Digital Lokal menyentuh tiga aspek krusial: konektivitas, literasi, dan dukungan perangkat keras. Konektivitas adalah masalah utama. Di banyak area yang diklaim sebagai bagian dari Smart City, kecepatan internet masih jauh dari memadai untuk menjalankan sistem kasir cloud-based atau mengelola pesanan online secara real-time. Kesenjangan ini menciptakan ketidakadilan digital, di mana bisnis kecil yang berlokasi di pinggiran Smart City otomatis tertinggal dari kompetitor yang berada di pusat kota yang memiliki koneksi prima.
Lebih jauh, keberhasilan Smart City sangat bergantung pada partisipasi aktif dan kemudahan akses bagi semua lapisan masyarakat. Jika aplikasi kota cerdas atau sistem pembayaran digital hanya bisa diakses oleh segelintir orang atau memerlukan biaya operasional tinggi, maka konsep ini hanya menjadi “gimmick” teknologi, bukan solusi inklusif. Warung Rasa menyoroti bahwa uang yang dihabiskan untuk proyek-proyek high-tech seharusnya dialihkan sebagian untuk memastikan bahwa setiap sudut kota memiliki akses internet yang cepat dan terjangkau, yang merupakan enabler utama bagi ekonomi digital.
