Dalam proses pengolahan hasil laut, sering kali bagian-bagian tertentu dianggap sebagai limbah atau bahan sisa yang tidak memiliki nilai jual tinggi. Namun, dalam dunia kuliner Palembang, ada sebuah kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan bahan baku, terutama bagian kulit ikan. Jika biasanya orang hanya mengincar daging putih yang bersih, para pengrajin makanan tradisional justru menemukan bahwa bagian kulit menyimpan konsentrasi rasa gurih yang jauh lebih intens. Pesan utamanya adalah jangan buang bagian ini, karena dengan teknik pengolahan yang tepat, bagian yang tadinya dianggap remeh bisa bertransformasi menjadi hidangan yang sangat berharga.
Rahasia di balik kelezatan varian ini terletak pada perpaduan antara tekstur dan aroma. Kulit ikan, terutama dari jenis ikan tenggiri, memiliki kandungan lemak alami yang memberikan aroma khas saat terkena panas api. Proses pembuatannya diawali dengan menghaluskan kulit ikan hingga menjadi pasta, lalu dicampur dengan bumbu-bumbu rempah dan sedikit tepung tapioka. Hasilnya adalah sebuah olahan yang memiliki warna sedikit lebih gelap dibandingkan varian lainnya, namun justru warna gelap inilah yang menandakan kekayaan rasa yang tersimpan di dalamnya. Bagi mereka yang baru pertama kali mencobanya, mungkin akan terkejut dengan betapa kuatnya karakter ikan yang dihasilkan.
Kunci utama yang dicari oleh para penikmat varian ini adalah sensasi kulit yang mampu memberikan tekstur renyah di luar namun tetap kenyal di dalam. Untuk mencapai tingkat kerenyahan yang maksimal, adonan biasanya dibentuk pipih agar panas minyak dapat meresap hingga ke pori-pori terdalam saat digoreng. Penggunaan api yang stabil dan teknik menggoreng dua kali (double frying) sering kali menjadi trik rahasia agar hasilnya tetap krispi dalam waktu yang lama. Tekstur yang garing ini memberikan dimensi baru dalam menyantap hidangan ikan, di mana setiap gigitan mengeluarkan bunyi renyah yang sangat memuaskan indra pendengaran dan perasa sekaligus.
Banyak orang yang awalnya ragu mencoba karena tampilannya yang tidak seputih varian kapal selam atau lenjer, namun setelah satu suapan, mereka biasanya langsung jatuh cinta. Sensasi rasa yang dihasilkan memang ternyata jauh lebih gurih karena kolagen yang terdapat pada kulit ikan pecah dan menyatu dengan bumbu saat dimasak. Di berbagai kedai legendaris di Sumatera Selatan, varian ini sering kali menjadi yang pertama habis terjual karena penggemar setianya tahu betul bahwa bagian ini menyimpan sari pati rasa ikan yang paling murni. Inilah yang membuatnya sering dijuluki sebagai varian dengan rasa yang paling berkarakter dan berani.
