Sotong Pangkong: Tradisi Kuliner Malam yang Bikin Nagih dengan Saus Spesial

Bagi masyarakat di Pontianak, khususnya saat memasuki bulan suci Ramadan, terdapat satu pemandangan unik di sepanjang jalanan kota: deretan kios-kios kecil yang menjajakan aroma panggang yang sangat khas. Inilah dunia dari sotong pangkong, sebuah tradisi kuliner malam yang tidak sekadar mengenyangkan, melainkan juga memberikan pengalaman emosional yang mendalam bagi siapapun yang menikmatinya. Nama “pangkong” sendiri berasal dari cara pengolahannya, yakni dipukul-pukul atau dalam bahasa lokal disebut “dipangkong” setelah dibakar di atas bara api.

Proses pemukulan ini bukanlah tanpa alasan. Sotong kering yang awalnya keras dan liat akan berubah teksturnya menjadi lebih empuk, berserat, dan sangat mudah untuk dikunyah. Proses ini membutuhkan tenaga ekstra dan kesabaran, namun hasil akhirnya adalah daging sotong yang memiliki tekstur unik—sedikit kenyal namun tetap lembut saat digigit. Tradisi ini telah ada selama puluhan tahun dan menjadi simbol kebersamaan saat warga mencari camilan setelah melaksanakan ibadah salat tarawih.

Namun, daya tarik utama yang membuat kudapan ini selalu bikin nagih terletak pada pasangan sejatinya: saus spesial. Ada dua varian saus yang biasanya ditawarkan, yakni saus kacang yang gurih manis dan saus asam pedas yang menggigit. Rahasia kelezatan saus ini terletak pada komposisi bumbu yang tepat, mulai dari cabai pilihan, kacang yang disangrai dengan sempurna, hingga sentuhan gula merah yang memberikan dimensi rasa kompleks. Perpaduan antara gurihnya sotong bakar dengan cocolan saus yang kaya rasa inilah yang menciptakan ledakan kenikmatan di lidah.

Makan sotong pangkong adalah aktivitas sosial. Biasanya, orang akan duduk lesehan di pinggir jalan, bercengkerama dengan teman atau keluarga sambil menunggu pesanan sotong mereka “dipangkong”. Suara debuman kayu yang memukul sotong di atas meja menjadi musik latar yang sangat khas, sebuah melodi kota yang menandakan bahwa malam masih panjang dan persahabatan sedang dirayakan. Inilah bukti bahwa kuliner tradisional memiliki kekuatan untuk menyatukan komunitas melalui metode yang sangat sederhana.

Bagi pendatang, sotong pangkong mungkin terdengar seperti camilan biasa. Namun, setelah satu gigitan, mereka akan mengerti mengapa penduduk lokal begitu mencintai hidangan ini. Ini adalah tentang menghargai tradisi yang masih bertahan di tengah gempuran tren makanan kekinian yang serba instan. Mengonsumsi sotong pangkong adalah cara kita mengapresiasi proses, di mana kerja keras (memangkong) menghasilkan kelezatan yang tiada duanya.